Tampilan slide

Loading...

WELCOME TO MY BLOG


Cool Text Maker

Enjoy Your Visiting In The My Blog

Minggu, 05 Juni 2011



MAKALAH

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Pembelajaran

Penggunaan Media & Ruangan Kelas Sebagai Sumber Pembelajaran







Disusun Oleh :

N u r m a n








SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )
STAI MIFTAHUL HUDA PAMANUKAN SUBANG
Alamat : Jalan Rancasari Dalam No. B 33 Pamanukan Subang

BAB. I 
PENDAHULUAN 

1.1. Latar Belakang

Dewasa ini pemerintah sedang gencar – gencarnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia sitem pendidikan nasional pun acap kali mengalami berbagai perubahan guna meningkatkan mutu pendidikan nasional kita dan berbagai upayalainnya pun pemerintah memberikan sarana dan prasarana guna menunjang penedidikan tersebut seperti media pembelajaran dan memberikan dana untuk merenovasi ruangan kelas di masing-masing sekolah yang tidak layak dipakai. Namun pada kenyataannya media dan ruangan kelas yang telah dipasilitasi oleh dinas pendidikan tidak dipergunakan dan dipelihara secara maksimal maka dalam makalah ini akan membahas tentang yang berkaitan masalah tersebut yaitu tentang “ Penggunaan media dan ruangan kelas sebagai sumber pembelajaran “ yang diharapkan setelah membaca ini kita termotivasi untuk benar-benar memfungsikan media dan ruangan kelas guna meningkatkan mutu peseta didik yang pada akhirnya bisa meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. 

1.2. Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan media dan rungan kelas itu ?
b. Apa fungsi media dan ruangan kelas sebagai sumber pembelajaran?
c. Bagaiman posisi media dalam proses pembelajaran ?
d. Bagaimana cara mengelola ruangan kelas ?

1.3. Tujuan

Selain untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen mata kuliah Media Pembelajaran juga untuk menambah wawasan kami dalam menguasai materi kuliah media pembelajaran serta menambah pustaka sebagai bahan baca di STAI Miftahul Huda Pamanukan.


BAB. II 
PEMBAHASAN 

2.1. Media 

2.1.1. Pengertian Media 

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ’tengah’, ’perantara’, atau ’pengantar’. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.

Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming (1987 : 234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator, media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar, yaitu siswa dan isi pelajaran. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran. (Arsyad, 2003 : 3). Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman,2002:6) Dalam dunia pendidikan bagi seorang guru apa yang disebut media pembelajaran /alat untuk membantu dalam proses pembelajaran adalah hal biasa, media bagi seorang guru sama fungsinya cangkul bagi seorang petani. Guru yang professional dalam setiap mengajar tidak cukup hanya dengan pandai atau cakap dalam menjelaskan suatu materi kepada anak didiknya namun juga harus diikuti dengan suatu keahlian bagaimana cara menggunakan media atau alat bantu untuk lebih efektifnya proses pembelajaran dengan arti apa yang disampaikan guru lebih mudah dicerna dan dipahami oleh anak didik sesuai dengan definisi pembelajaran yaitu upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) pencapaiannya (Dewi Salma P. Evelina S. 1997).
Dalam pembelajaran selain dengan adanya alat bantu juga perlu dipilih strategi yang tepat agar agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.yang tentunya pada setiap kegiatan pembelajaran terlebih dahulu harus dirumuskan tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajaran harus bersifat “behavioral” atau berbentuk tingkah laku yang dapat diamati, dan “measurable” atau diukur artinya dapat dengan tepat dinilai apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran itu dapat dicapai atau belum. Disinilah letak pentingnya strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh instruktur dengan sengaja seperti metode, sarana prasarana, materi, media dan sebagainya (Dewi Salma P. Evelina S. 1997) dengan menggunakan strategi yang dilengkapi dengan media maka anak didik jadi diberikan kemudahan (difasilitasi) dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Mengapa media pembelajaran dapat dipandang sebagai pilihan (bahkan sebagai suatu keharusan ) dalam strategi pembelajaran ? Dalam perkembangannya mula-mula dikenal suatu gerakan dalam dunia pendidikan yang dinamakan “visual educational “ pada tahun1920-an. Gerakan ini sebenarnya diilhami oleh aliran realism dalam pendidikan pada abad 17 yang di pelopori oleh Johan Amos Comenius yang mengarang buku teks pendidikan pertama yang berjudul ORBIS PICTUS (Dunia dalam gambar). Comenius melihat betapa sulitnya anak-anak dieropa yang tidak berbahasa latin (misalnya Jerman, prancis, rusia dsb.) untuk belajar bahasa latin. Bagi mereka bahasa latin sangat abstrak karena itu Comenius menulis buku Orbis Pictus .dalam buku tersebut, tiap kata latin yang harus dipelajari diberikan gambar bendanya disamping kata berikut. Dengan demikian bahasa latin yang dipelajari oleh anak-anak menjadilebih nyata/kongkrit dan mudahdiingat. Aliran realisme inilah yang mendorong timbulnya aliran / gerakan “visual education” dimana guru harus menggunakan gambar-gambar untuk memperjelas apayang diajarkannya. Dengan ditemukannya radio pada tahun 1930-an muncul gerakan “audiovisual education”yang menekankan pentingnya penggunaan audiovisual dalam pembelajaran. Disinilah mulai dikenal AVA (Audio Visual Aids) yaitu alat peraga yang menyajikan bahan-bahan visual dan audio untuk memperjelas apa yang disampaikan guru kepada murid.

Jadi peranan AVA disini adalah untuk membantu guru dalam menyampaikan pelajaran kepada murid agar pelajaran menjadi lebih jelas dan konkrit. Karena itu juga disebut “ Teaching Aids” (Alat untuk membantu guru dalam mengajar). Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1950-an dimana pendidikan dipandang sebagai suatu proses komunikasi. Tomas dan Weaver pada tahun 1944 menciptakan suatu model komunikasi untuk kegiatan elektronika dan dalam kawasan matematika sehingga munculah istilah “ Audiovisual Communication”. Selanjutnyamunculistilah “ Educational Communication” dan kemudian “Educational Media” semuanya menampilkan fungsi baru yaitu komunikasi dalam penggunaan media. 

2.1.2. Fungsi Media Sebagai Sumber Belajar 

Dalam sejarah singkat diatas menyebutkan bahwa terdapat dua fungsi media pembelajaran, yaitu :

1. Fungsi AVA (Audio Visual Aids)

Audio Visual Aids berfungsi untuk memberikan pengalaman yang konkrit kepada siswa dengan menggunakan media suara dan gambar sehingga siswa akan lebih mudah memahami atau mengerti apa yang disampaikan oleh guru.

2. Fungsi Komunikasi.

Media (Flural) berasal darikata medium(Singular) yang artinya inbetween” (diantara). Jadi media berada ditengah (diantara) dua hal yaitu yang menulis / membuat media (dalam komunikasi disebut komunikator / sumber /source) dan orang yang menerima (membaca, melihat dan mendengar ) media (dalam komunikasi disebut receiver, penerima, audiensi atau komunikan) media yang dibuat (ditulis dalam bentuk modul dll., dibuat dalam bentuk film slide, OHP dsb.) memuat pesan (message) yang akan disampaikan(ditransmisikan) kepada penerima. Dalam komunikasi tatapmuka (face to face communication) pembicara (kommunikator) langsung berhadapan dalam menyampaikan pesannya kepada penerima (audience). Dengan meletakan pesan yang hendak disampaikan kedalam suatu format media tertentu (buku, film, slide, dsb). Yang dinamakan kegiatan encoding. Kegunaan media komunikasi dalam pembelajaran selain untuk menyajikan pesan, sebenarnya ada beberapa fungsi lain yang dapat dilakukan oleh media. Namun jarang sekali ditemukan seluruh fungsi tersebut dipenuhi oleh media komunikasi dalam suatu system pembelajaran. Fungsi-fungsi tersebut antara lain.

1. Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar 
2. Memotipadi siswa
3. Menyajikan informasi
4. Merangsang diskusi
5. Mengarahkan kegiatan siswa
6. Melaksanakan latihan dan ulangan
7. Menguatkan belajar
8. Memberikan pengalaman simulasi.

Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran. Tiga kelebihan kemampuan media (Gerlach & Ely dalam Ibrahim, et.al., 2001) adalah sebagai berikut.

Pertama, kemapuan fiksatif, artinya dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian. Dengan kemampuan ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.

Kedua, kemampuan manipulatif, artinya media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.

Ketiga, kemampuan distributif, artinya media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajia secaraserempak, misalnya siaran TV atau Radio. Hambatan-hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, verbalisme, artrinya siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidak mengetahui artinya. Hal ini terjadi karena biasanya guru mengajar hanya dengan penjelasan lisan (ceramah), siswa cenderung hanya menirukan apa yang dikatakan guru. Kedua, salah tafsir, artinya dengan istilah atau kata yang sama diartikan berbeda oleh siswa. Hal ini terjadi karena biasanya guru hanya menjelaskan secara lisan dengan tanpa menggunakan media pembelajaran yang lain, misalnya gambar, bagan, model, dan sebagainya. Ketiga, perhatian tidak berpusat, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain, gangguan fisik, ada hal lain yang lebih menarik mempengaruhi perhatian siswa, siswa melamun, cara mengajar guru membosankan, cara menyajikan bahan pelajaran tanpa variasi, kurang adanya pengawasan dan bimbingan guru. Keempat, tidak terjadinya pemahaman, artinya kurang memiliki kebermaknaan logis dan psikologis. Apa yang diamati atau dilihat, dialami secara terpisah. Tidak terjadi proses berpikir yang logis mulai dari kesadaran hingga timbulnya konsep

2.1.3 Posisi media

Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’ (Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990). Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware). Sedangkan menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media. Pengertian ini sejalan dengan batasan yang disampaikan oleh Gagne (1985), yang menyatakan bahwa media merupakan berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.

2.2. Ruang Kelas

2.2.1 Pengertian Ruang Kelas

Ruangan berarti sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat berbagai pasilitas untuk menunjang suatu kegiatan tertentu. Sedangkan Kelas dalam arti umum menunjuk kepada pengertian sekelompok murid yang ada pada waktu yang sama guna menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Jadi Ruangan Kelas adalah sebuah bangunan dengan berbagai pasilitasnya yang digunakan oleh sekelompok murid dalam kegiatan proses belajar mengajar dalam waktu tertentu.

2.2.2 Pengelolaan Kelas Sebagai Sumber Pembelajaran

Istilah pengelolaan dapat merupakan terjemahan dari kata“management” yang berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Depdikbud (1989) mengartikan pengelolaan sebagai “proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan”. Kemudian, kelas dalam arti umum menunjuk kepada pengertian sekelompok murid yang ada pada waktu yang sama guna menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Dengan demikian, pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai suatu upaya menciptakan suasana atau kondisi kelas yang memunginkan murid dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif. Terdapat suatu kecenderungan bahwa pembicaraan mengenai pengelolaan kelas lebih difokuskan kepada pengendalian prilaku murid sehingga prilaku yang menyimpang tidak ditampilkan oleh anak. Penekanan pandangan ini mengakibatkan suasana kelas menjadi tegang dan kaku sehingga mengakibatkan anak tidak merasa senang untuk melakukan aktivitas belajar. Ini berarti bahwa pengelolaan kelas yang baik tidak hanya memfokuskan pada pengendalian perilaku anak dalam kelas, melainkan lebih luas dari itu. Hal ini diperkuat oleh apa yang dikemukakan Jones dan Jones (1998) bahwa manajemen kelas yang baik tidak hanya dapat menghasilkan kerjasama murid-murid dalam mengurangi perilaku yang salah tetapi juga terjadinya aktivitas akademik secara terus menerus dan system manajemen kelas secara keseluruhan telah dirancang untuk memaksimalkan prestasi belajar murid bukan hanya untuk meminimalkan perilaku yang salah. Di samping itu, menurut Kellough (1996) esensi dari manajemen kelas yang efektif berkaitan dengan kegiatan:

1. Mengawasi perilaku anak dalam kelas
2. Mengawasi aspek mengajar yang dilakukan guru dan
3. Mengawasi pengadministrasian, pengorganisasian aktivitas serta material dengan baik.

Pendapat ini menunjukan bahwa di samping mengawasi perilaku anak, kegiatan pengelolaan kelas juga mesti mencermati kegiatan mengajar yang dilakukan guru. Hal ini berarti bahwa suasana kelas yang baik juga dipengaruhi oleh perilaku mengajar yang ditampilkan guru. Selanjutnya, dalam pengelolaan kelas, pengaturan aktivitas serta material yang mendukung aktivitas belajar anak menjadi amat penting. 

2.2.3. Fungsi Ruangan Kelas Sebagai Sumber Pembelajaran

Ruangan kelas adalah salah satu sarana pokok yang sangat penting sebagai inprastruktur penyelenggaraan sebuah sekolah yang tiada lain untuk tempat bernaung dan berinteraksinya seorang pendidik dengan pesertadidik dalam proses pembelajaran yang diharapkan memberikan kenyamanan, keamanan dan efisiensi penyelengaraan pendidikan Nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Selain itu ruangan kelas tidak hanya berfungsi hanya sebatas tempat proses belajar mengajar namun juga sebagai tempat menyimpan berbagai media pembelajaran yang menunjang dalam proses belajar mengajar seperti halnya ; Peta dunia,mading, cerding, sudut baca dan gambar – gambar yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diharapkan peserta didik merasa nyaman, tidak bosan dan bisa menuangkan kreatifitasnya sesuai potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik. Bahkan jika kita menengok penyelenggaraan pendidikan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Play Grup dan Pendidikan Taman Kanak-kanak ( TK ) ruangan kelas hampir penuh dengan gambar-gambar dan alat peraga bahkan ruangan kelas dibikin sekat-sekat atau kios-kios perbidang, misalnya ; ketika anak-anak hendak belajar tentang lingkungan maka kelas harus dibikin sekat untuk meniru layaknya lingkungan alam nyata dengan tujuan agar anak dapat memahami sebuah lingkungan dan apa saja yang ada didalam lingkungan sehingga anak merasa tidak jenuh dan bisa merangsang rasa ingin tahu anak dalam mepelajarai materi yang diajarkan. Pembahasan di atas adalah sebagian contoh penyelenggaraan pendidikan yang memanfaatkan ruangan kelas tidak hanya sekedar tempat bernanung dan belajar tapi untuk memotifasi peserta didik agar mampu berkreatifitas dan berinovatif dalam proses pembelajaran.

Jumat, 10 Desember 2010

kami bekerja sehari2...dengan mengharap rizki illahi....do'a pun terus ku panjatkan kehadirat-Nya...ulet, ikhlas, sabar dan syukur adalah perangkat jiwa kerja kami..... moga Allah SWT Ridho pada kami.....

Selasa, 29 Juni 2010

Akhlak adalah kejayaan Islam

Saudara - saudarku mari kita rebut kembali kejayaan umat Islam dimasa lalu yang telah direbut oleh Orang-orang Orientalis dengan cara memanfaatkan IPTEK ala Islam....kita sepantasnya merebut kembali kejayaan itu, karena yang membangun Dasar-dasar IPTEK dan sumbangan terbesar buat kemajuan zaman pada saat ini adalah Orang-orang Islam.... Namun ingat... Bukan IPTEK yang membuat Islam berjaya tetapi Akhlak ...Umat Islamlah Yang membuat Islam Itu berjaya....Allahua'lam bisshawaf..
By Nurman Al Faruq

Senin, 14 Juni 2010

JIKA KEBUTUHAN JASAD DAN RUH TERPENUHI ===> KEBAHAGIAAN

Nurman Al Faruq Bahagia > Duka >Sakit > Menderita > Bahagia ====> Kebutuhan Jasad X Kebutuhan Ruh = Penderitaan Sementara Kebutuhan Jasad ~ kebutuhan ruh = Kebahagiaan